Kebutuhan dan keinginan, sebuah renungan pasca Lebaran

Lebaran telah usai, hiruk pikuk dan euforianya mungakin masih terasa sampai saat ini. Akan tetapi jika kita renungkan lebih lanjut, layakkah kita merayakan Lebaran? pantaskah kita ? Kalau anda mengikuti solat jum’at di bulan Syawal, anda tentu akan menemukan tema yang hampir serupa disetiap masjid yang ada, yang pada intinya mempersiapkan untuk menghadapi 11 bulan ke depan. Sempat teringat perbincangan ketika menjelang mudik dengan teman saya ketika hari-hari menjelang mudik, yang akhirnya menggelitik untuk menuliskannya.

Kebutuhan dan Keinginan

Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam aktifitas-aktifitasnya dan menjadi dasar dan alasan berusaha. Didalam tulisannya yang berjudul “A Theory of Human Motivation”,  Abraham Maslow menggambarkan dalam bentuk piramida tentang hierarki kebutuhan maanusia, mulai dari kebutuhan fisik (physiological needs) – bernafas, makan, minum, hubungan seksual, tidur dan lain-lain sampai pada tingkatan tertinggi yaitu aktualisasi diri (self-actualization needs) – menuangkan kreatifitas, dihormati dan lain-lain

Keingingan merupakan perasaan yang kuat dari jiwa seseorang untuk menikmati ataupun memperoleh sesuatu baik dengan ataupun tanpa adanya sebuah kebutuhan. contoh ingin mobil, ingin baju baru, ingin kaya dan lain sebagainya.

Allah memberikan kepada kita media, dengan mewajibkan kita berpuasa di bulan Rhamadan untuk, jangankan keinginan, kebutuhan pun dibatasi , agar kita senantiasa sadar dan tidak terbawa oleh keinginan yang membabi buta dihanyutkan oleh hawa nafsu. Disiang hari, kita tidak diijinkan untuk memenuhi kebutuhan, tak usahlah jauh-jauh, makan atau minum saja tidak diijinkan. Akan tetapi alangkah dahsyatnya kita, ketika larangan itu selesai, tidak perlu menunggu Lebaran, ketika berbuka saja kita sudah terbawa oleh keinginan kita, dengan dahsyatnya kita makan dan minum layaknya orang yang kesetanan, ketika siang ingin minum ini dan makan itu, semuanya kita babat habis ketika waktu berbuka puasa tiba sampai-sampai jika perut kita sebesar perut gajah, mungkin akan kita penuhi seluruhnya. Padahal Nabi sudah memberitahukan kepada kita, tubuh kita ini sejatinya cukup hanya dengan beberapa buah kurma dan air, hanya itu !

Kesadaran

Jika para pejabat sadar bahwa kebutuhan harta mereka telah lebih dari cukup, tentunya tidak ada korupsi. Seandai para birokrat tetap sadar untuk mengendalikan keinginan dan bersyukur terhadap penghasilan mereka untuk memenuhi kebutuhan tentu tidak ada birokrasi yang berbelit disertai “kewajiban memberikan amplop”. Seandainya setiap peserta didik sadar bahwa mereka memiliki kebutuhan akan pendidikan bukan keinginan untuk meraih gelar semata tentunya tidak akan terjadi kasus ijazah instant seperti yang marak diberitakan. Seandainya setiap kita memenuhi kebutuhan dilakukan dengan baik, tentunya kemiskinan akan semakin mudah ditekan, karena setiap orang pasti akan “kebagian” karunia rezeki yang “diserakkan” Allah pada hamparan langit dan bumi.

Dengan kesadaran dan kemampuan untuk mengendalikan keinginan dan tetap bersabar serta berusaha sebaik mungkin dalam memenuhi kebutuhan, tentunya hidup ini akan semakin lebih indah. Seluruh aspek kehidupan -hidup, mati, jodoh dan rezeki- ada pada Allah, toh hanya bisa kita usahakan, sebesar apapun keinginan kita penentuan akhirnya ada pada Allah.

Dengan berakhirnya Ramadhan dan dimulainya pertempuran sesungguhnya pada sebelas bulan berikutnya semoga kita tetap sadar untuk dapat membedakan mana hal-hal yang “benar-benar”  sebuah kebutuhan, atau “hanya” sebuah keinginan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Taqoballahu Minna Wa Minkum, Minal Aidzin Wal Faidizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

About these ads

3 Responses

  1. Mbah Gandhi pernah berujar: “Bumi dan isinya tak akan kurang untuk memenuhi seluruh kebutuhan segenap manusia, namun semesta dan isinya tak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan seorang manusia”. ;)

  2. waah, mas qenthank makin mantap aja neh..Taqabalahu minna wa minkum …sip sip..

    btw, kok themes kita sama yah secara kebetulan

  3. @ bee, ga usah jauh-jauh lah mbah Gandhi, yang pade-pade orang Islam pasti pernah denger dari bos Rasullullah Muhammad, “bahwa seandainya manusia diberikan emas sebesar gunung Uhud, dia pasti minta tambah”

    @ idur, taqabbalhu ya kariim, bukan kebetulan .. diantara sekian banyak pilihan themes yang rada-rada cucok itu ya yang ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: